Bodoh Dipelihara

Bodoh dipelihara,

Habislah sudah kau dimakan sastra

Hingga lupa akan agama

Alih-alih tak percaya kebenaran

Justru terbuai gombalan setan

Iklan

Planning

Hari ini saya mulai bertanya. Mau jadi seperti apakah  saya nanti. Yang jelas apa yang saya inginkan nanti adalah seperti kebanyakan orang lainnya. Menjadi bahagia, dan sanggup membahagiakan orang-orang di sekeliling saya.

Tapi itu masih terlalu ambigu untuk dicerna. Harus ada sebuah kekompleksan dalam rencana hidup manusia. Visi dan misinya harus jelas. Jadi tahu mana yang harus dilakukan selanjutnya, dan untuk apa sebenarnya saya melakukan itu.

Tak ada satupun manusia yang tak ingin bahagia. Tak ada satupun manusia yang tak ingin sukses nantinya. Tapi tak banyak orang yang mampu memperincikan bagaimana ia harus bertindak mencapai kesuksesannya.

Terus terang saya juga belum pernah memperincikan apa yang harus saya lakukan setelah ini, besok, minggu depan, bahkan 3 tahun setelah ini. Tapi saya pernah berangan-angan, tak begitu kompleks, namun sudah cukup bisa digambarkan. Paling tidak dalam waktu dekat saya harus sudah punya usaha sendiri. Entah studio, clothing line, apapun itu. Setidaknya saat tiba waktunya untuk skripsi, saya sudah tidak lagi terikat pekerjaan dengan orang lain. Kemudian setelah wisuda rasanya ingin menjajal kemampuan saya di bidang advertising, itung-itung latihan, siapa tau nantinya punya agency sendiri. Amiin.

Oh iya, nikahnya kapan ya? Saya pikir-pikir dulu deh, semoga saja di tulisan selanjutnya sudah menemukan jawabannya. Aseek.. 😀

There is One Behind The Condition.

Setiap orang menjalani hidup dengan keinginannya masing-masing. Dengan kapasitas yang berbeda-beda tentunya. Tentu tak sama orang yang satu dengan yang lain.

Ada orang yang mempunyai segudang keinginan di benaknya. Tanpa berpikir panjang, dan tanpa mengukur sebagaimana besar inginnya dapat diwujudkan. Terkadang maunya banyak, tapi tak cukup modal yang ia punyai. Ada yang punya modal, tapi usaha pun ia tak mau. Ya, sekarang dapat kita simpulkan, bahwa keinginan tanpa modal dan kerja keras mustahil akan terwujud.

Tapi kita tidak berhenti sampai di situ. Ada satu hal yang terlewatkan dalam pikiran kita. Satu hal yang paling berperan dalam tercapainya keinginan-keinginan kita nantinya. Apalagi jika bukan kehendak-Nya. Kehendak dari seorang pencipta, dari seorang penentu nasib semua umat manusia.

Orang boleh meyakini sesuatu, termasuk pula meyakini akan keberhasilannya pada suatu saat nanti. Dengan mengandalkan modal yang cukup, serta kerja keras yang telah ia lakukan. Tapi apakah dia telah meyakini bahwa dibalik keberhasilan atau jika tidak berhasilnya nanti, ada seseorang yang telah menentukan? Yang menentukan dengan mudahnya, yang menentukan sesuai kehendak-Nya. Maka dari itu ingatlah akan satu hal, di balik sebuah keadaan, pasti ada yang menentukan. Keadaan seperti apa yang kau cari? Maka itulah yang seharusnya kau minta kepada-Nya. Ia memang tahu apa yang sedang kau inginkan, tapi Ia juga tidak bodoh. Ia tak mungkin begitu saja memberikan secara cuma-cuma pada seseorang yang seakan tak butuh akan pertolongan-Nya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.” (Al-Baqarah: 186).

Senja

9-2-16-1

Apa-apaan ngeblur semua. 😀 (Emang sengaja kok!) ~ Dok. Pribadi

Rintik hujan masih menetes di sepanjang jalan menuju rumahku. Dan kali ini aku masih terjebak di lampu merah itu. Aku begitu tenang, aku tak terburu-buru. Justru aku sangat menikmatinya.

Suasananya damai, segala penatku hilang seketika. Aku tak peduli rintik air yang perlahan membasahi jaketku. Padahal perempatan jalan ini seringkali membuatku jengkel di pagi hari. Jelas saja, siapa yang tidak jengkel tertahan 2 menit di lampu merah. Sementara jam masuk kantor tinggal sedikit lagi. Namun sekali lagi, kali ini aku benar-benar tenang menikmatinya.

Entah kenapa senja memang begitu memikat. Acap kali aku tergesa-gesa, tapi karena senja aku menjadi biasa. Sering pula jenuh kurasa, namun karena senja aku pun lupa. Entah kenapa, energi apa yang telah Ia berikan lewat senja.

Faktanya memang demikian. Aku yakin semua orang pasti setuju jika senja adalah waktu yang tepat untuk mendiamkan diri sejenak, dan merenungkan apa yang telah dilakukannya sepanjang pagi dan siang. Untunglah hari ini aku sudah melakukan yang terbaik. Oleh karenanya aku begitu bahagia melihat senja.

Bicara Tentang Kopi

vmoe0ge6

Kopi yang kayak lainnya, sama aja. 😀 ~ via http://ngcblog.naturesgardencandles.com

Lima menit lagi tepat jam setengah satu. Saya masih sibuk disini dengan deadline yang makin lama makin membuat saya benar-benar terdesak. Untung saja masih ada sedikit kopi dingin di bawah meja.

Terus terang saja, saya memang bukanlah seorang pecinta kopi. Namun saya percaya betul bahwa kopi sanggup membuat orang kian fokus dengan apa yang sedang ia lakukan.

Terkadang saya tidak mengerti, ada saja orang bicara panjang lebar tentang citarasa kopi. Saya sih mencoba mengamini saja, toh saya juga tidak begitu tahu menahu tentang kopi. Jangankan rasanya, namanya saja hanya tahu beberapa. Mungkin kalau ditanya soal merk saya lebih tahu. Apalagi yang sering mondar-mandir ngiklan di TV.

Pernah suatu hari saya nongkrong bareng teman-teman lama. Tepatnya di salah satu cafe di dalam mall di Surabaya, reunian nih ceritanya. Terus terang memang baru pertama kali saya nongkrong di tempat “mahal” kayak gitu. Nggak lama kemudian pelayan menyodorkan daftar menu. Setelah saya lihat, saya sedikit berpikir sambil menelan ludah dalam-dalam. Bukannya saya heran, saya sadar bahwa saya tidak sedang berada di warung kopi di pinggir-pinggir jalan itu. Ini cafe bro.

Kali ini hati saya yang memutuskan, “Sekali-sekali kan nggak apa-apa juga. Toh nggak setiap hari juga bisa ketemu teman-teman lama.“. Akhirnya pilihan saya jatuh pada secangkir kopi hitam. Entahlah, lupa namanya. Saya pilih itu memang karena cuma itu yang paling murah, berkisar 20-25 ribu-an kalau tidak salah. Hihihihi… 😀

Tidak lama berselang pesanan datang. Saya penasaran kayak apa sih kopi seharga 20 ribu-an itu? Saya seruput kopinya sedikit. Rasanya pahit. Lalu saya tambahin gula ke dalam cangkir. Kebetulan saat di sajikan, ada beberapa sachet gula yang diletakkan di samping cangkir. Kalau tidak salah ada dua jenis gula, gula pasir sama gula merah. Saya masukkan saja satu sachet gula pasir ke dalam cangkir. Setelah saya aduk dan saya minum, rasanya masih pahit juga. Saking nggak sabarnya saya masukin deh semuanya ke dalam cangkir. Dan yang terjadi sungguh di luar dugaan saya. Setelah saya minum rasanya malah jadi asam. Maklumi saja lah, saya memang belum terbiasa dengan keadaan seperti itu. Saya bukanlah tipikal orang hedonis, yang suka menghabiskan uang dengan cara-cara yang mahal. Namun sejak itu lah saya jadi mengerti salah satu sisi anak muda jaman sekarang.

Sampai sekarang pun saya masih belum tahu mana kopi yang enak dan mana yang tidak. Saya juga belum bisa memahami di mana letak nikmatnya kopi yang diseduh tanpa gula. Bukannya malah pahit?

Tapi yang namanya manusia tidak semuanya sama. Setiap orang punya pilihan masing-masing dalam hidupnya. Setiap orang pun bebas memilih apapun yang dia suka. Selagi itu tidak membuat orang lain merasa terganggu. Janganlah men-judge mereka. Cobalah untuk menikmati keberagaman yang ada. Ingat, anggrek yang parasit saja bisa terlihat indah di mata kita. Bahkan benalu pun bisa saja menjadi indah. Itu kan hanya masalah persepsi. Bergantung bagaimana saja kita menganggapnya.

Tetaplah berkarya dab, jangan lupa minum kopi. 😀

Ayo Diriku!!!

4

Nggak terasa, hari sudah siang rupanya. Alunan musik Barasuara masih berputar di jendela Windows Media Player laptop butut saya. Entah sudah berapa kali berulang-ulang mulai dari pagi.

Rasanya sudah lelah, ujian kali ini betul-betul menyiksa batin diri. Tapi mau gimana lagi. Mau nggak mau, paling tidak besok pagi harusnya sudah siap cetak. Dari 20 halaman yang harus dikerjakan, baru setengahnya saja yang selesai. Itupun belum cover-nya. Belum lagi layout, cetak, ngelem, jilid, aduuuuuuuh…

Semua harap yang terucap kan kembali“, sedikit cuplikan lirik lagu Taifun milik Barasuara. Cukup sederhana, namun sangat memotivasi. Iya, semua harapan itu pasti akan terwujud, insyaAllah.

Nggak ada istilah sia-sia saat kita melakukan sesuatu, meskipun toh itu gagal. Sudah bukan hal yang asing lagi kita dengar, bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Dan saya pun meyakini itu. Susah payah yang kita lakukan kali ini, lambat laun pasti akan kita nikmati hasilnya. Tinggal seberapa sabar kita mampu menunggu.

Badai pasti berlalu, gelombang pasti kan reda. Tidak ada cobaan yang tak akan berhenti. Tuhan tentunya sudah mengerti. Ia tak mungkin menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Asalkan yakin akan keberhasilan, dan tentunya tak lupa akan doa.

Bersemangatlah! 😀